Halaqah 13 Pembahasan Kitab Fadhlul Islam Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Ubay Bin Ka’ab Radhiyallāhu ‘anhu Bagian 02

 Halaqah 13 Pembahasan Kitab Fadhlul Islam
Pembahasan Dalil Ketujuh Hadits Ubay Bin Ka’ab Radhiyallāhu ‘anhu Bagian 02

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

📕 Halaqah yang ke-13 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ

Dari Ubay Ibn Ka’ab
Beliau mengatakan

.. وليس من عبد على سبيل وسنة ذكر الرحمن فاقشعر جلده من مخافة الله إلا كان كمثل شجرة يبس ورقها ، إلاتخاتت عنه ذنوبه كما تحات عن هذه الشجرة ورقها … ” .

Dan tidaklah seseorang berada diatas Sabilin dan sunnah (yaitu berada diatas Islām) kemudian dia mengingat Allāh ﷻ, kemudian dia mengingat ar-Rohman kemudian merinding kulitnya karena sebab takut kepada Allāh ﷻ melakukan amalan yang disunnahkan sesuai dengan contoh Nabi ﷺ baik ikhlasnya maupun dzhohirnya kemudian dia mendapatkan kulitnya merinding karena takut kepada Allāh ﷻ kecuali pahalanya itu seperti sebuah pohon yang dia kering daun²nya kecuali akan berguguran darinya dosa²nya seperti bergugurannya daun² dari pohon yang tersebut

Orang yang berada diatas Islām melakukan amal shaleh dengan ikhlas kemudian dia merinding kulitnya dengan sebab takut kepada Allāh ﷻ maka berguguran darinya dosa²nya sebagaimana berguguran daun² yang kering dari pohon, jika kita menggerakan pohon yang sudah kering daun² tadi ketika digerakan maka dia akan berjatuhan.

Ini adalah diantara keutamaan mengikuti Islām yang dibawa Nabi ﷺ adalah diampuni dosanya, ini kalau merindingnya tadi didasari oleh Islām bukan karena didasarkan oleh bidah, makanya beliau berpesan dari awal – عليكم بالسبيل و السنة – hendaklah kalian berpegang dengan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Jika berpegang dengan Islām kita menangis, merinding maka nanti disana ada keutamaannya tapi kalau tidak berdasarkan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ meskipun kita menangis, merinding tidak akan mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ.

Diantara syahidnya adalah firman Allāh ﷻ

۞ قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
[QS Al Imron31]

Maka hendaklah kalian mengikuti diriku فَاتَّبِعُونِي (Nabi ﷺ )di dalam agama beliau mengikuti Islām, memeluk agama Islām, yang dibawa oleh beliau ﷺ baik secara dzhohir & bathin maka yang pertama يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ Allāh ﷻ akan mencintai kalian kemudian yang kedua وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ Allāh ﷻ akan mengampuni dosa kalian.

Berarti ittiba’urrosul / mengikuti Rasulullah ﷺ , mengikuti sunnah beliau mengikuti Islām secara dzhohir & bathin ini adalah menjadi sebab seseorang diampuni dosanya, ini kelebihan orang yang mengikuti sunnah, kalau memang kita merasa diri kita banyak dosa maka seharusnya kita semangat untuk masuk kedalam kedalam sunnah (ikut sunnah Nabi ﷺ).

Karena dengan kita mengikuti sunnah beliau berarti kita mengikuti Islām yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ dzhohir dan bathin dan ini adalah sebab diampuninya dosa.

Dan di dalam sebuah Hadits Nabi ﷺ

الإسلام يجب ما قبله

Islam itu menghapuskan dosa yang sebelumnya

Kalau kita mengikuti yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka ini menjadi sebab diampuninya dosa kita.

Ini menerangkan tentang apa yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab tadi bahwasanya orang yang mengikuti Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ mengikuti asabilu wa sunnah maka ini menjadi sebab diampuninya dosa kita.

Sudah disebutkan disini dua keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ diantaranya

  1. Selamat dari Neraka
  2. Diampuni dosanya

وإن إقتصادا في سنة، خير من إجتهاد في خلاف سبيل اللهو سنته

Dan sungguh- إقتصادا – ini adalah biasa² di dalam sunnah amalan yang sederhana tetapi berada diatas sunnah (Islām) baik dzhohir (sesuai dengan Nabi ﷺ) & bathin (ikhlas)nya. Amalan biasa saja maka itu lebih baik – إجتهاد – bersungguh² tetapi ternyata amalan tersebut dia menyelisihi Islam, tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ berarti dia menyelisihi Islam yang dibawa Nabi ﷺ.

Maka orang yang biasa² saja amalannya (sedikit) tapi diatas sunnah itu lebih baik karena kalau dia diatas Islām/sunnah meskipun sedikit dia diterima oleh Allāh ﷻ & yang diterima itulah yang menjadi hasanah bagi kita dihari kiamat.

Yang akan memberatkan kita dihari kiamat adalah amalan yang maqbul/diterima tidak setiap diamalkan seseorang kemudian bisa menjadi pemberat timbangan, yang menjadi pemberat timbangan yang maqbul (diterima oleh Allāh ﷻ), oleh sebab itu berdoa meminta kepada Allāh ﷻ supaya diterima amalannya doa diiringi dengan usaha bagaimana supaya dia ikhlas bagaimana sesuai dengan sunnah sehingga bisa hasanah pemberat timbangan amalannya dihari kiamat.

Adapun hanya sekedar banyak ijtihad tetapi kalau tidak sesuai dengan sabilin wa sunnah tidak sesuai dengan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ.

Berarti disini menunjukan tentang keutamaan Islām yang lain yaitu bahwasanya Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ ini adalah sebab diterimanya amalan. Menyelisihi itu sebab ditolaknya amal kita. Bahwasanya orang yang berpegang teguh Islām secara dzhohir dan bathin maka ini sebab diterimanya amalan dia, jadi minimal ini menunjukan tentang 3 keutamaan, diantaranya

  1. Akan menjadi sebab terhindar dari Neraka
  2. Menjadi sebab diampuninya Dosa
  3. Menjadi sebab diterimanya amal shaleh

Dan Allāh ﷻ mengatakan

۞ وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَل

barangsiapa yang mencari agama selain agama Islām maka tidak akan diterima darinya

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan tidak ada diatasnya – أَمْرُنَا – (disini amrudin) tidak ada di dalam agama kami yang menunjukan tentang amalan tadi maka amalan tersebut tertolak
Karena tidak berdasarkan agama yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Maka ini menunjukan tentang keutamaan Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

بِاللَّهِ التَّوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ ووَبَرَكَاتُهُ

Saudaramu,
‘Abdullāh Roy

Related Posts: